tragedi kelam indonesia
Apa itu Petrus?
Petrus adalah akronim dari Penembakan Misterius, sebuah operasi penegakan keamanan yang terjadi pada awal 1980-an (terutama 1983–1985), di mana ribuan orang yang dicap sebagai pelaku kriminal ditembak secara diam-diam oleh aparat negara.
Sasaran utamanya adalah:
-
Kriminal kelas kakap
-
Pemeras
-
Geng preman
Namun dalam praktiknya:
-
Banyak korban adalah pemuda miskin, pengangguran, atau orang yang sekadar dicurigai, tanpa proses hukum.
Bagaimana cara operasi ini berlangsung?
Ciri-ciri yang banyak dilaporkan:
1. Tembak di tempat
Korban ditemukan tewas dengan luka tembak, sering di kepala atau dada.
2. Mayat dibiarkan di tempat umum
Tujuannya menciptakan efek kejut dan menimbulkan ketakutan agar angka kriminal turun.
3. Ada korban yang “diambil” lebih dulu
Banyak saksi melaporkan:
-
korban “dijemput” malam hari,
-
kemudian ditemukan tewas beberapa waktu kemudian.
4. Banyak mayat dibuang ke sungai atau tempat terpencil
Berapa jumlah korban?
Angka pastinya tidak pernah dipublikasikan secara resmi.
Perkiraan berbagai organisasi dan peneliti:
-
Ratusan hingga ribuan korban
(estimasi umum: 2.000–10.000 orang tergantung sumber)
Mengapa operasi ini dilakukan?
Konteksnya adalah:
-
Pada awal 1980-an, tingkat kriminalitas meningkat.
-
Pemerintah Orde Baru ingin memulihkan rasa aman dan menunjukkan kontrol penuh terhadap keamanan.
Namun:
-
Metode yang digunakan adalah eksekusi tanpa proses peradilan, melanggar hak asasi manusia.
Apakah pemerintah mengakui operasi ini?
Tidak ada pengakuan resmi langsung mengenai operasi, tetapi:
-
Pada masa itu, pejabat tinggi beberapa kali memberikan pernyataan yang dianggap sebagai restu implisit atas tindakan keras terhadap kriminal.
-
Setelah reformasi, Petrus telah diakui sebagai pelanggaran HAM berat, namun belum ada penyelesaian hukum komprehensif.
Dampak Jangka Panjang
1. Turunnya angka kriminal kala itu
Ketakutan di masyarakat membuat tindakan kriminal menurun drastis.
2. Trauma sosial
Banyak keluarga tidak pernah tahu nasib pasti anggota keluarganya.
3. Warisan pelanggaran HAM
Petrus menjadi contoh ekstrem dari penggunaan kekerasan negara tanpa proses hukum.
BAGAIMANA TANGGAPAN SOEHARTO TERHADAP OPERASI PETRUS?
1. Soeharto tidak pernah mengakui secara langsung bahwa Petrus adalah operasi resmi pemerintah
Ia tidak mengatakan secara eksplisit bahwa ia memerintahkan penembakan itu.
Namun, ia mengisyaratkan dukungan terhadap tindakan tegas terhadap kriminal.
2. Dalam autobiografinya, Soeharto menyebut Petrus sebagai “shock therapy”
Dalam autobiografi “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”, ia menyinggung bahwa pemerintah memang memberikan sinyal keras kepada para penjahat.
Ia menjelaskan bahwa:
-
kriminalitas saat itu meningkat tajam,
-
pemerintah perlu menimbulkan rasa aman,
-
tindakan keras terhadap penjahat diperlukan untuk membuat masyarakat merasa dilindungi.
Istilah “shock therapy” inilah yang sering dikutip publik dan peneliti sebagai petunjuk bahwa Soeharto membenarkan operasi tersebut sebagai bentuk terapi kejut untuk menekan kriminalitas.
3. Sikap Soeharto: Membela tindakan keras, tetapi tanpa detail
Soeharto biasanya:
-
menghindari penjelasan teknis tentang siapa yang menjalankan Petrus,
-
menekankan bahwa penjahat harus diberi pelajaran,
-
dan bahwa stabilitas keamanan adalah prioritas utama.
Ia menyerahkan penilaian moral kepada publik, dengan pernyataan yang kira-kira berarti:
tindakan itu adalah konsekuensi dari ulah para penjahat yang meresahkan masyarakat.
(Disampaikan dalam wawancara dan tulisan reflektifnya setelah pensiun.)
4. Tidak ada penyesalan atau koreksi di masa setelah lengser
Setelah jatuhnya Orde Baru, Soeharto:
-
tidak pernah meminta maaf,
-
tidak pernah memberikan klarifikasi tambahan,
-
dan tetap mempertahankan posisi bahwa itu adalah bagian dari upaya menjaga ketertiban.
TUGAS DARI FAUZI MARSYAN DAFI&FADHIL MUHAMMAD KARISA :)
Komentar
Posting Komentar